Glufosinat Tidak Mau Kalah Untuk Ikut Meroket

Amonium glufosinat atau biasa dikenal juga sebagai AG merupakan pestisida atau tepatnya herbisida yang paling banyak digunakan di dunia setelah Glifosat. Menyusul pembahasan harga glifosat yang terus merangkak naik, maka menarik bila kita juga melihat apa yang terjadi di AG.

Glufosinat mengalami kenaikan yang konsisten pada tahun 2020, tepatnya semenjak akhir semester 1 tahun 2020 sampai saat ini. Kenaikan harga diprediksi dapat menyentuh angka 38.00 US Dollar per kilogram pada akhir bulan juli 2021. Prediksi kenaikan ini cukup kuat karena didasari oleh pasokan dan permintaan yang tidak seimbang di pasaran.

Ketidakseimbangan ini pada mulanya terjadi karena kemunculan kasus COVID-19 yang terjadi di China pada akhir tahun 2019. Alasan keamanan dan karantina wilayah untuk menanggulangi permasalahan pandemi, membuat beberapa perusahaan agrokimia di China menahan beberapa pasokan ekspor glufosinat ke luar negeri. Dampak pandemi COVID-19 yang meluas di dunia mendorong beberapa negara mengeluarkan kebijakan karantina wilayah demi tujuan keselamatan. Kebijakan ini di sisi lain juga memperketat pengiriman kargo dalam berbagai moda transportasi.

Penahanan pengiriman, kenaikan biaya transport, dan pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat membuat kenaikan harga glufosinat tidak dapat dihindarkan pada semester awal tahun 2020.

Pandawa Agri Indonesia mencatat angka 21.46 US Dollar harga glufosinat per 30 juli 2020 lalu merupakan imbas dari segala kondisi kurang ideal yang terjadi di sepanjang semester awal tahun 2020.

Memasuki semester kedua tahun 2020, harga glufosinat masih mengalami kenaikan. Kenaikan ini masih erat hubungannya dengan segala macam isu di semester awal tahun 2020. Salah satunya yaitu penahanan salah satu pasokan ‘bahan antara’ utama glufosinat di provinsi Hubei China selama beberapa bulan.

Padahal penggunaan glufosinat bisa dikatakan sedang mengalami tren kenaikan di pasar luar negara China. Glufosinat dianggap sebagai bahan aktif herbisida alternatif yang tepat untuk mengendalikan gulma, salah satunya yaitu gulma tanaman kedelai di Amerika Serikat.

Peran glufosinat di sektor pertanian Negeri Paman Sam digadang-gadang dapat menggantikan penggunaan herbisida berbahan aktif dicamba pada pertanian kedelai. Glufosinat dianggap cukup efektif mengendalikan gulma pada tanaman kedelai yang dianggap mempunyai kondisi resisten karena penggunaan dicamba yang terus menerus.

Saat ini konsumi glufosinat Amerika Serikat bergantung pada stok bahan baku yang berasal dari China yaitu fosfor kuning. Namun dengan berkurangnya cadangan fosfor kuning bermutu tinggi di China, pemerintah China melakukan tindakan tegas untuk memperketat ekspor keluar negeri.

Keadaan tersebut memicu adanya kenaikan harga bahan baku glufosinat yang secara otomatis berdampak pada kenaikan harga glufosinat sendiri di pasaran. Pandawa Agri Indonesia mencatat bahwa pada akhir tahun 2020, harga glufosinat di pasaran sudah mencapai angka 26.79 US Dollar per kilogram.

Angka tersebut terus menanjak memasuki tahun 2021. Sebab kuartal keempat ataupun pertama di setiap tahun biasanya adalah puncak dari pasar herbisida. Kenaikan permintaan dari berbagai negara konsumen seperti di Asia ataupun Amerika latin meningkat pada dua kuartal tersebut. Tidak adanya peningkatan kapasitas produksi yang terjadi pada akhir tahun 2020 ataupun awal 2021 membuat harga glufosinat mencapai angka 28.67 US Dollar per 25 Februari 2021.

Kampanye kenaikan harga glufosinat terus berlanjut sampai pertengahan tahun 2021. Kondisi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung dan meningkatnya permintaan tanpa dukungan pasokan yang memadai menjadi alasan utama belum adanya tanda-tanda penurunan harga glufosinat.

Baca Juga :

Pada bulan Juni 2021, Pandawa Agri Indonesia mencatat harga glufosinat sudah mencapai angka 30.97 US Dollar per kilogram. Beberapa pakar mengatakan kenaikan ini diprediksi akan meningkat di kisaran 38.00 US Dollar per akhir juli nanti, lebih tinggi daripada harga pada tahun 2018 lalu.

Peningkatan harga glufosinat pada akhirnya memunculkan berbagai kekhawatiran di kalangan pelaku bisnis agrokimia maupun konsumennya. Pasalnya glufosinat saat ini merupakan bahan aktif herbisida yang banyak digunakan menyusul pelarangan penggunaan parakuat di berbagai negara. Termasuk di Indonesia karena pembatasan penggunaan paraquat, Glufosinat banyak digunakan oleh perkebunan sebagai alternatif utama dikarenakan sifatnya yang dikenal semi kontak dan semi sistemik.

Sejauh ini, dua bahan aktif herbisida ini adalah yang paling efektif dalam mengendalikan gulma yang sukar dikendalikan di lahan pertanian. Lalu jika keduanya mengalami kenaikan harga, apa yang harus kita lakukan?

Seperti yang sudah kita singgung pada artikel tentang glifosat kemarin, terdapat 3 hal yang perlu kita waspadai, diantaranya soal harga penjualan glufosinat di Indonesia yang tentunya juga akan ikut naik, harga yang akan berubah secara cepat (bulanan atau bahkan mingguan), dan juga terbatasnya supply.

Menjawab kewaspadaan tersebut, perlunya upaya strategis untuk mengatasi kenaikan harga glufosinat menjadi poin penting yang harus kita perhatikan. Salah satunya bisa dengan cara menggunakan reduktan yang dapat mengurangi dosis pemakaian herbisida tanpa mengurangi efikasinya.

Penggunaan reduktan terbukti mampu mengurangi dampak kurang baik dari penggunaan herbisida terhadap lingkungan. Di sisi lain, penggunaan reduktan tentunya mampu menekan biaya pembelian herbisida secara signifikan yang pada saat ini mengalami kenaikan harga di pasaran. Jelas menjadi sebuah kabar baik.

Ditengah isu kenaikan harga herbisida, karena upaya ini juga mampu mendorong pertanian yang berkelanjutan, dikarenakan reduktan sendiri tidak memiliki sifat toksisitas kepada lingkungan maupun user yang menggunakan.

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Terkait

Blog

Glufosinat Tidak Mau Kalah Untuk Ikut Meroket

Menyusul pembahasan harga glifosat yang terus merangkak naik, maka menarik bila kita juga melihat apa yang terjadi di AG.
Glufosinat mengalami kenaikan yang konsisten pada tahun 2020, tepatnya semenjak akhir semester 1 tahun 2020 sampai saat ini. Kenaikan harga diprediksi dapat menyentuh angka

Read More »
Tentang Aku, Kamu, dan OPT
Blog

Tentang Aku, Kamu, dan OPT

Apa yang ada di benak kalian jika membaca kalimat tentang organisme pengganggu tanaman? Apakah hanya golongan dari serangga saja? Tentu saja bukan. Organisme pengganggu tanaman atau biasa disingkat OPT merupakan organisme baik itu hama, vektor penyakit, bahkan gulma.

Read More »

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Blog

Glufosinat Tidak Mau Kalah Untuk Ikut Meroket

Menyusul pembahasan harga glifosat yang terus merangkak naik, maka menarik bila kita juga melihat apa yang terjadi di AG.
Glufosinat mengalami kenaikan yang konsisten pada tahun 2020, tepatnya semenjak akhir semester 1 tahun 2020 sampai saat ini. Kenaikan harga diprediksi dapat menyentuh angka

Read More »

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *