Tentang Aku, Kamu, dan OPT

#TemanPandawaAgri Apa yang ada di benak kalian jika membaca kalimat tentang organisme pengganggu tanaman? Apakah hanya golongan dari serangga saja? Tentu saja bukan. Organisme pengganggu tanaman atau biasa disingkat OPT merupakan organisme baik itu hama, vektor penyakit, bahkan gulma.  Akibat yang ditimbulkan oleh OPT diantaranya dapat menurunkan hasil panen karena tanaman rusak secara fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara dengan tanaman budidaya. Bayangkan jika tidak ada pengendalian OPT pada tanaman budidaya, mungkin stok hasil pertanian tidak akan melimpah seperti sekarang.

“Saatnya melawan dengan ramah lingkungan”. Begitulah ajakan dari Pandawa Agri Indonesia untuk menyerukan langkah-langkah dalam menanggulangi dan mengendalikan OPT bagi tanaman budidaya kita. Apa sih maksudnya “melawan dengan ramah lingkungan”? maksudnya adalah dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) kita harus tetap mengedepankan aspek-aspek lingkungan, jangan sampai mengorbankan lingkungan. Melawan / mengendalikan OPT boleh, mengorbankan lingkungan jangan. 🙂

Ada beberapa ajakan “melawan dengan ramah lingkungan” yang mungkin #TemanPandawaAgri bisa ikuti, antara lain: 

  • Menjadikan agen hayati sebagai pembunuh hama. Hal ini merupakan salah satu tips alami mengendalikan OPT yang ramah lingkungan. Salah satu agen hayati yang dapat digunakan yaitu bakteri Bacillus thrungiensis (Bt). Bt menghasilkan senyawa delta-endotoksin berupa cairan toksin protein kristal yang dapat membunuh OPT.
  • Menggunakan pestisida organik yang berasal dari tumbuhan atau sisa-sisa makanan. Seperti campuran dari air kelapa, ragi, dan juga bawang putih.
  • Penggunaan mulsa di atas lahan bedengan. Dalam prosesnya, mulsa yang terkena sinar matahari dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva ulat dengan cara memantulkan sinar matahari ke organ tanaman di atasnya.
  • Pengendalian secara teknis yang dilakukan secara langsung dengan mengambil tanaman yg telah terinfeksi hama secara manual menggunakan tangan.

Keempat ajakan tersebut bisa membantu kita untuk “melawan dengan ramah lingkungan” tapi pada praktiknya kegiatan tersebut masih dirasa kurang efektif dan efisien dalam mengendalikan OPT, seperti penggunaan bahan-bahan organik yang ketersediaan dan keefektifitasannya yang masih belum stabil, begitu pula dengan pengendalian secara teknis yang akan memakan waktu dan tenaga yang besar jika dilakukan di lahan pertanian yang luas.

Tidak dapat dipungkiri sejauh ini penggunaan pestisida memang dapat mengancam kelestarian lingkungan, apalagi jika digunakan secara terus menerus dan dalam dosis yang tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri juga belum ada yang bisa menyamai keefektifitasan dan keefisienan dalam menggunakan pestisida.

Menggunakan pestisida dengan dosis rendah bisa menjadi salah satu alternatif pengendalian OPT yang ramah lingkungan karena bisa menekan residu pestisida yang tersimpan di dalam tanah dan yang terpapar pada tanaman utama. Salah satu cara untuk dapat mengurangi dosis penggunaan pestisida namun tetap mendapatkan hasil yang sama dengan menggunakan dosis tunggal adalah dengan menggunakan reduktan pestisida.

Reduktan adalah suatu bahan campuran yang digunakan untuk mengurangi dosis pestisida namun masih memiliki efektivitas/hasil yang sama dengan dosis tunggal. Reduktan dapat mengurangi sampai setengah dari dosis pestisida yang biasa digunakan.  Reduktan hanya khusus digunakan untuk pestisida tertentu saja, misalnya reduktan untuk herbisida, reduktan untuk insektisida dan fungisida, dan lain sebagainya. Reduktan untuk herbisida tidak bisa digunakan untuk insektisida maupun fungisida, dan sebaliknya. 

Baca juga artikel lainnya :

Kemampuan reduktan yang dapat membantu meningkatkan efektivitas pestisida adalah sebagai carrier bahan aktif pestisida agar tepat ke sasaran (targetsite). Selain itu, reduktan tidak dapat menurunkan tegangan permukaan antara larutan semprot dengan permukaan gulma dan tidak mempunyai fungsi sebagai perekat maupun perata. Penggunaan reduktan tunggal dengan dosis yang tinggi(minimal setara dengan dosis pestisida) tidak akan menimbulkan fitotoksisitas(keracunan) pada tanaman utama.  Larutan reduktan tidak meninggalkan residu seperti pestisida, sehingga reduktan mudah dan cepat terurai di lingkungan.

Pandawa Agri Indonesia mempunyai produk reduktan herbisida dan reduktan insektisida yang dikenal dengan nama Weed Solut-ion dan Pest Solut-ion. Jadi jika kalian punya kebun dan ternyata kebun kalian banyak gulmanya dan ingin melakukan pengendalian gulma secara  ramah lingkungan maka alternatif lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan herbisida yang sudah dicampurkan dengan reduktan herbisida (weed solut-ion). Maka pengendalian gulma yang efektif, efisien dan ramah lingkungan akan terwujud.

(Sumber : Jurnal SIMETRIS 2019, tipspetani.com)

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Artikel Terkait

Blog

Apa itu Alsintan 4.0?

#TemanPandawaAgri, Apakah kalian tau tentang Alsintan? Apa yang ada dalam benak kalian jika mendengar kalimat tersebut? Eits, ini bukan nama senyawa kimia atau sebuah tempat di timur tengah ya.

Read More »
Blog

Tentang Aku, Kamu, dan OPT

Apa yang ada di benak kalian jika membaca kalimat tentang organisme pengganggu tanaman? Apakah hanya golongan dari serangga saja? Tentu saja bukan. Organisme pengganggu tanaman atau biasa disingkat OPT merupakan organisme baik itu hama, vektor penyakit, bahkan gulma. Akibat yang ditimbulkan oleh OPT diantaranya dapat menurunkan hasil panen karena tanaman rusak secara fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara dengan tanaman budidaya. Bayangkan jika tidak ada pengendalian OPT pada tanaman budidaya, mungkin stok hasil pertanian tidak akan melimpah seperti sekarang.

Read More »

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Blog

Tentang Aku, Kamu, dan OPT

Apa yang ada di benak kalian jika membaca kalimat tentang organisme pengganggu tanaman? Apakah hanya golongan dari serangga saja? Tentu saja bukan. Organisme pengganggu tanaman atau biasa disingkat OPT merupakan organisme baik itu hama, vektor penyakit, bahkan gulma. Akibat yang ditimbulkan oleh OPT diantaranya dapat menurunkan hasil panen karena tanaman rusak secara fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara dengan tanaman budidaya. Bayangkan jika tidak ada pengendalian OPT pada tanaman budidaya, mungkin stok hasil pertanian tidak akan melimpah seperti sekarang.

Read More »

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *