Kandungan Residu Pestisida Pada Cabai Tinggi? GAP dengan Teknologi Reduktan bisa Meminimalisir hal tersebut?

Pesticide Residue Level in Chili is high GAP (Good Agricultural Practice) with Reductant Technology may be an option for minimizing this.

Buat kalian yang udah nonton film Doctor Strange in the Multiverse of Madness pasti udah nggak asing lagi sama quotes “I love you in every universe” yang jadi trending topic di mana-mana. Kalimat romantis yang diucapkan Doctor Stephen Strange pada film tersebut berhasil menjadi quotes signature baru di film superhero Marvel. Tapi selain “I love you in every universe” ada satu pertanyaan yang juga sering diulang-ulang dalam film bergenre horor pertama Marvel ini yaitu “Are you happy?”.

Apakah Kamu Bahagia?

Sebuah pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab oleh masing-masing kita. Apakah kita benar-benar bahagia dengan pilihan hidup yang kita jalani. Akal sehat kita mengatakan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dari hal-hal yang menyenangkan seperti traveling, menikmati pagi dengan secangkir kopi, berbicara dengan orang yang kita senangi, atau bermain video games bersama  teman-teman. Namun, ternyata kita juga bisa mendapatkan kebahagiaan dari hal buruk atau luka pada diri sendiri. Apakah kamu percaya itu?

Awalnya tim Pandawa Agri juga terkejut mendengar fakta bahwa ternyata manusia bisa menemukan kesenangan dalam rasa sakit. Dalam bahasa biologinya saat rasa sakit muncul pada manusia, otak akan melepaskan sebuah protein bernama endorfin yang membuat rasa sakit hilang berganti rasa senang. Menariknya, perasaan ini sepertinya sering terjadi pada manusia khususnya yang doyan makan makanan pedas. Hahhh?!!

Rasa Sakit Tak Selalu Buruk

Sebenarnya pedas bukanlah sebuah rasa pada makanan melainkan sebuah efek luka pada lidah yang terbakar saat menikmati makanan pedas. Bahan aktif yang ada di dalam cabai bernama capsaicin yang ketika terkena oleh lidah akan memberikan dampak kerusakan pada reseptor suhu. Sehingga otak akan mengirimkan sinyal bahwa lidah sedang kepanasan dan terbakar.

Meskipun cabai memberikan luka pada lidah kita, namun kita tetap menikmati cabai bukan? Hal itu bisa terjadi karena kita menganggap bahwa tidak adanya kerusakan nyata yang terjadi pada lidah kita pada saat menikmati cabai. Kenikmatan dalam menikmati cabai sebanding dengan kenikmatan yang kita temukan saat bermain roller coaster, terjun payung, bungy jumping dan bahkan dalam tangisan ketika kita menangis pada saat menonton film sedih menyayat hati serta sensasi-sensasi serupa yang kerap menimbulkan rasa untuk ingin mengulanginya.

Pedas sepertinya sudah menjadi selera masyarakat dunia. Sepertiga manusia di dunia mengkonsumsi cabai setiap harinya. Tidak hanya itu makanan terlezat di dunia juga didominasi oleh makanan dengan citarasa pedas.

Di Indonesia sendiri, hampir semua makanan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke berbahan dasar cabai. Seperti rendang, nasi goreng, opor dan juga tidak lupa sambel khas ditiap daerah yang memang berbahan utama cabai. Tidak heran jika Indonesia sangat familiar dengan tanaman hortikultura ini.

Daerah di Indonesia yang dikenal sebagai penyangga cabai nasional adalah Kabupaten Banyuwangi yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Banyuwangi menyiapkan lahan sebesar 40 hektar untuk menanam cabai. Tak kalah mengejutkan, Banyuwangi juga mencetak prestasi melalui kelompok tani Pucangsari yang berhasil mengembangkan komoditas cabai dan benihnya dipasarkan di Asia dan Eropa.

Cabai Yang Tidak Aman Untuk Dikonsumsi

Namun pernahkah terbesit di dalam pikiran teman Pandawa Agri, apakah rasa sakit dan kenikmatan cabai yang kita rasakan sepadan dengan kebahagiaan yang kita dapatkan? Karena ada asumsi yang beredar bahwa tidak semua cabai aman untuk dikonsumsi. Benarkah?

Kekhawatiran ini muncul saat tim Pandawa Agri menemukan beberapa narasi tentang cabai yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia. Hal tersebut dikarenakan cabai mengandung residu insektisida yang melebihi Batas Maksimum Residu (BMR). Jika cabai tersebut dikonsumsi dikhawatirkan dapat menyebabkan penyakit seperti kanker, penyakit saraf dan penyakit lainnya.

Seperti kasus cabai yang terjadi di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Cabai merah yang beredar mengandung Dimethoat (pestisida jenis insektisida) dalam kadar yang sangat tinggi di atas BMR sehingga tidak aman untuk dikonsumsi. Kandungan residu insektisida tersebut didapatkan karena penggunaan insektisida yang tidak sesuai dengan anjuran.


Baca juga artikel lainnya
:

Hal serupa juga terjadi di Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian tentang cabai lokal yang dibudidayakan mengandung residu Dimethoad dan Klorpirifos (bahan aktif insektisida) pada cabai melebihi BMR.

Tidak hanya di Indonesia, residu cabai yang mengandung residu pestisida di atas BMR juga ditemukan di India. Penelitian tersebut mengambil 30 sampel cabai secara acak di distrik Haveri, Kanataka, India. Dari hasil penelitian tersebut, 11 sampel mengandung residu pestisida diatas BMR.

Cabai Yang Aman Untuk Dikonsumsi

Penerapan Good Agricultural Practice (GAP) pada perawatan tanaman hortikultura seperti cabai dapat dilakukan agar tidak merusak tanaman budidaya, lingkungan, dan manusia yang mengkonsumsinya. Hal tersebut saat ini sangat mungkin dilakukan dengan mengurangi penggunaan insektisida.

Adanya kekhawatiran petani akan kurangnya efektifitas ketika mereka mengurangi dosis penggunaan insektisida agar residu pestisida tidak semakin banyak, sementara penggunaan insektisida saat ini masih tetap dibutuhkan sebagai bagian dari perawatan yang efektif dan efisien pada tanaman cabai masih menjadi tantangan tersendiri.

Belum lagi melonjaknya harga – harga pestisida di pasaran yang membuat petani beralih menggunakan bio pestisida, namun seperti yang kita tau bio pestisida, terutama yang diracik sendiri, mempunyai formulasi atau keefektifitasan yang relatif belum stabil, terkadang ampuh tapi beberapa hari kemudian bisa tidak ampuh sama sekali.

Sebuah solusi datang melalui teknologi baru yang bernama Reduktan Pestisida. Reduktan Pestisida terdiri dari beberapa jenis seperti Reduktan Herbisida dan Reduktan Insektisida. Seperti namanya, Reduktan Insektisida mampu mengurangi dosis penggunaan insektisida yang bisa dibilang tidak sedikit, bahkan di beberapa percobaan demo plot, insektisida bisa dikurangi hingga 50%nya dan tidak meninggalkan residu pada lingkungan karena cepat terdegradasi. Karena terbuat dari 70% bahan alami, Reduktan Insektisida tidak menimbulkan efek fitotoksisitas pada tanaman budidaya.

Penggunaan Reduktan Insektisida yang digunakan sebagai campuran insektisida mengikuti keefektifitasan dari insektisida itu sendiri sehingga petani dapat mengendalikan hama sekaligus menjaga lingkungan dan tanaman budidaya. Karena Reduktan Insektisida merupakan produk lokal asli Indonesia (Banyuwangi – Jawa Timur), maka harganya pun tidak membuat petani menjerit sehingga ketika dicampurkan dengan insektisida masih bisa memberikan efek penghematan kegiatan perawatan.

Begitulah penerapan GAP yang dapat kita terapkan pada tanaman hortikultura seperti cabai. Dengan mengurangi insektisida, secara tidak langsung, dapat mengurangi residu insektisida yang terpapar pada tanaman, sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran bagi kita yang mengkonsumsi makanan tersebut. Mengurangi lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?

Well, menikmati makanan tanpa rasa khawatir bisa jadi hal yang membuat kita bahagia. Seperti kebahagiaan yang datang dari rasa senang dan rasa sakit, sejatinya kebahagiaan bisa datang darimana saja asalkan semuanya berada pada kadar yang tepat dan tidak berlebihan. Lalu, hal apa lagi yang bisa kita lakukan untuk  menemukan bahagia?

Source :


Tentang Pandawa Agri Indonesia

Pandawa Agri Indonesia merupakan perusahaan berbasis lifescience pertama dari Indonesia dan saat ini satu-satunya yang memiliki inovasi dalam pengembangan produk pengurang pestisida (reduktan pestisida). Berawal dari inovasi tersebut, Pandawa Agri Indonesia berkomitmen membantu para pelaku usaha pertanian untuk mewujudkan praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, aman bagi pengguna, dan juga efisiensi biaya.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: Pandawa Agri Indonesia

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait

Blog

Pestisida – Akankah Sejarah Terulang?

Sebelum kita menemukan jawaban apakah ini sejarah yang akan berulang ataukah Déjà vu, perkenalkan seorang ilmuan dari Swiss yang bernama Paul Muller. Saat itu, pada tahun 1939 beliau menemukan Dichlorodiphenyltrichloroethane atau yang kita kenal DDT. DDT merupakan insektisida yang paling efektif mengendalikan berbagai macam hama seperti

Read More »
Impact Report 2021
News

Pandawa Agri Indonesia Bangun Ekosistem Pertanian Berkelanjutan – Laporan Dampak

Pandawa Agri Indonesia (PAI), perusahaan agrikultur yang menciptakan inovasi reduktan pestisida, mengembangkan ekosistem pertanian end-to-end yang berkelanjutan di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Inisiatif Pengembangan Ekosistem Beras Natural Mbay ini merupakan satu diantara beberapa inisiasi lainnya yang dikembangkan oleh PAI bagi petani swadaya (smallholders) di Indonesia.

Dalam Laporan Dampak (Impact Report) yang dirilis pada Rabu (10/08/2022), tercatat sejumlah dampak positif yang dihasilkan dari inisiatif tersebut, termasuk

Read More »

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *