Bisakah Budidaya Tumpangsari Menyelamatkan Kita dari Krisis Pangan Dunia?

The global food crisis: Is intercropping an alternative solution?

Eid Mubarak! Mohon maaf lahir bathin #sobatPAI semuanya. Tidak terasa Ramadhan 1443 H sudah berakhir, tak terasa kita sudah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh di bulan ramadhan tahun ini. Jika kita flashback kembali, rasanya selalu menyenangkan ketika kita berburu takjil untuk berbuka dan juga menyiapkan sahur bersama orang-orang terdekat, tak heran Ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah untuk kita semua karena masih bisa menikmati hal tersebut. Berbicara tentang berburu takjil, teman Pandawa Agri pasti sedikit banyak menyadari bahwa kita kerap kali menjadi pribadi yang lapar mata di saat tersebut, sehingga makanan yang kita beli menjadi terlalu banyak dan akhirnya tidak habis termakan.

Lapar mata dan kaitannya dengan krisis pangan

Lapar mata saat membeli makanan atau ketika lebih banyak makanan yang tersisa dibandingkan dengan yang dibutuhkan mungkin tidak hanya terjadi di bulan Ramadan. Namun, menurut data yang tim Pandawa Agri Indonesia himpun, makanan yang terbuang saat Ramadan meningkat hingga 10%  jika dibandingkan dengan bulan lainnya. Di Indonesia sendiri sebesar 8,49% penduduknya mengalami kekurangan pangan, namun ironisnya setiap penduduk di Indonesia ternyata menyisakan sebesar 184kg makanan pertahunnya, yang jika dikonversikan bisa untuk memberi makan kurang lebih 125 juta orang.

Kekurangan pangan yang terjadi bisa mengarahkan kita pada krisis makanan yang secara sadar atau tidak, saat ini kita sedang mengalaminya. Tidak hanya di Indonesia, krisis pangan terjadi hampir di seluruh dunia, bahkan menjadi satu dari 30 agenda sustainability development goals oleh PBB yang berarti krisis pangan ini adalah masalah global yang harus kita pecahkan bersama solusinya.

Penyebab dari krisis pangan ini bermacam-macam. Seperti pertumbuhan populasi manusia yang terus menerus meningkat, secara tidak langsung akan meningkatkan kebutuhan pangan itu sendiri. Selain itu, peperangan, konflik antar negara, bahkan pemanasan global turut mempengaruhi stok pangan dunia.

Bagaimana pertanian menghadapi krisis pangan?

Jika kita berbicara mengenai krisis pangan yang terjadi, maka pertanian adalah sektor yang bisa diandalkan untuk menghadapi masalah tersebut. Namun persoalannya adalah ketika pertanian membutuhkan lahan untuk menghasilkan makanan, tapi lahan yang tidak akan bertambah luasnya tersebut juga digunakan untuk kepentingan lainnya, seperti tempat tinggal, peternakan, lokasi wisata, dan hal lainnya.

Namun bukan berarti permasalahan lahan tersebut tidak ada solusinya. Jika teman Pandawa Agri pernah mendengar sebuah metode pertanian yang dikenal dengan nama tumpangsari, teknik budidaya ini bisa menjadi solusi kreatif untuk memaksimalkan penggunaan lahan di sektor pertanian.

Baca juga artikel lainnya  :

Tumpangsari bukan merupakan penemuan terbaru abad ini. Sudah sejak lama teknik budidaya dengan menggabungkan 2 atau lebih tanaman dalam jarak dekat ini digunakan. Bahkan di Indonesia metode tumpangsari sudah menjadi hal yang umum di kalangan petani.

Berdasarkan data yang tim Pandawa Agri temukan bahwa sebesar 13,34% dari total luas daratan Indonesia digunakan untuk perkebunan. Jika dijabarkan lagi sebanyak 7,78% atau sekitar 14.858.300 hektar digunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Diikuti oleh perkebunan kakao dengan luas 1.528.400 hektar, perkebunan kopi sebesar 1.242.800 hektar dan sisanya untuk perkebunan lainnya.

Tumpangsari pada kelapa sawit

Melihat dari data tersebut bisa dikatakan bahwa di Indonesia perkebunan kelapa sawit adalah perkebunan yang paling mendominasi. Teknik monokultur yang kerap diterapkan pada kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas dan meninggalkan banyak lahan kosong. Hal ini membuat tim Pandawa Agri penasaran, bisakah tumpangsari diaplikasikan pada tanaman yang biasanya menggunakan metode monokultur seperti kelapa sawit? Jika hal tersebut memungkinkan, maka tanaman apa yang cocok dikombinasikan dengan kelapa sawit?

Seperti memilih baju yang pas untuk kita pakai, teknik tumpangsari juga tidak selalu pas dikombinasikan dengan semua tanaman. Hal ini membuat teknik tumpangsari cukup tricky. Namun jangan sedih, ada beberapa tanaman yang cocok untuk dikombinasikan dengan kelapa sawit. Seperti yang diterapkan di Malaysia, salah satu negara produsen kelapa sawit ini mengaplikasikan tumpangsari kelapa sawit dengan buah nanas. Sementara itu di Brazil, kelapa sawit ditumpangsarikan dengan tanaman kayu seperti mahoni, ipe, dan andiroba. Yang paling menarik adalah penelitian juga meyatakan bahwa kelapa sawit sangat mungkin dikombinasikan dengan salah satu komoditi unggulan dari Indonesia yaitu kopi.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Applied Agricultural Science and Technology meneliti tentang kelapa sawit yang ditumpangsarikan dengan kopi jenis liberika. Dalam penelitian tersebut, disebutkan bahwa kopi liberika tidak menurunkan hasil produksi kelapa sawit sebagai tanaman utama.

Kombinasi tumpangsari dengan asumsi jarak antara sawit dan kopi liberika sebesar 4,5 m tidak menimbulkan perebutan nutrisi yang dibutuhkan masing-masing tanaman. Kedua tanaman tersebut memiliki dominan akar vertikal dan horizontal yang berbeda. Pada sawit distribusi akar vertikal dominan pada 0-30 cm solum, sementara pada kopi liberika akar vertikal dominan pada 30-60cm solum. Secara horizontal, akar kelapa sawit dominan pada jarak 2m dari batang, sementara pada kopi liberika akar horizontal dominan pada jarak 3m dari batang.

Keunggulan metode tumpangsari

Penelitian demi penelitian terus dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak mengenai tumpangsari. Namun, ada beberapa keunggulan dari penerapan metode tumpangsari yang ternyata memberikan manfaat lebih dari sekedar memaksimalkan penggunaan lahan. Tim Pandawa Agri telah merangkumnya khusus untuk teman Pandawa Agri :

1. Metode pola tanam tumpangsari menghasilkan lebih sedikit gulma

Tidak bisa dihindari, gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dapat menyebabkan persaingan nutrisi pada tanaman utama. Namun, penelitian yang diterbitkan oleh American Journal of Plant Science menyatakan bahwa pola menanam tanaman yang tepat bisa mengurangi jumlah gulma yang muncul.

Penelitian dilakukan pada tanaman kelapa sawit yang ditumpangsarikan dengan kopi di Nigeria. Penelitian tersebut membandingkan pola tanam coffee hollow square, coffee Sole, dan coffee avenue. Hasil dari penelitian tersebut, pola tanam coffee hollow square menghasilkan lebih sedikit gulma.

2. Hemat biaya perawatan

Selain dengan pola tanam yang tepat, pertumbuhan gulma yang lebih sedikit bisa menghemat aplikasi herbisida. Kabar baiknya, aplikasi herbisida masih bisa dikurangi lagi hingga setengahnya jika menggunakan reduktan herbisida. Artinya, biaya perawatan gulma berkurang lebih dari 50%.

Selain itu, sebesar 70% kandungan bahan alami yang terkandung dalam reduktan herbisida tidak meninggalkan toksisitas pada tanaman. Limpasan dari kandungan kimia yang terkandung juga cepat terdegradasi sehingga aman bagi lingkungan, hewan, dan tumbuhan non target.

3. Menyelamatkan keanekaragaman hayati

Studi yang diterbitkan dalam jurnal forest ecology and management menemukan bahwa tumpangsari kelapa sawit dengan menanam berbagai tanaman lain selain tanaman utama atau yang juga disebut agroforestri kelapa sawit, jika dikelola secara efisien menghasilkan kontribusi positif terhadap peningkatan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Sampel tanah pada lahan kelapa sawit yang menggunakan metode tumpangsari memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menyerap karbon, jauh di atas sistem monokultur dan mirip dengan hutan sekunder. Selain itu munculnya berbagai macam fauna asli di agroforestri kelapa sawit menunjukkan adanya sistem keseimbangan ekologis.

Keren ya metode tumpangsari ini. Jika dinilai dari sisi ekonomi, menerapkan budidaya tumpangsari dapat meningkatkan penghasilan petani. Hal tersebut dikarenakan petani tidak bergantung pada hasil sawit saja namun juga mendapatkan penghasilan dari tanaman lain.

Bagaimana menurut teman Pandawa Agri, apakah budidaya tumpangsari bisa menyelamatkan kita dari krisis pangan? Adakah hal lain yang bisa kita lakukan untuk menjadi pahlawan menghadapi permasalahan global lainnya?

Soon akan kita release di artikel selanjutnya yaa 😀

Source :

  • https://www.dbs.com/spark/index/id_id/site/articles/livesmarter/2020-mengurangi-sampah-makanan-di-bulan-ramadan.html
  • https://www.bps.go.id/indikator/indikator/view_data/0000/data/1473/sdgs_2/1
  • https://www.kompas.com/food/read/2021/10/27/133600175/sampah-makanan-di-indonesia-jadi-permasalahan-serius-?page=all
  • https://www.un.org/en/global-issues/food#:~:text=It
  • https://news.un.org/en/story/2022/01/1110742
  • https://news.mongabay.com/2021/09/oil-palms-alone-can-be-damaging-with-other-crops-the-benefits-abound/
  • https://www.bps.go.id/indicator/54/131/1/luas-tanaman-perkebunan-menurut-provinsi.html
  • https://edepot.wur.nl/508982
  • http://www.jaast.org/index.php/jaast/article/view/22/12
  • https://link.springer.com/article/10.1007/s10457-015-9873-z
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0378112721005697?dgcid=raven_sd_via_email

Tentang Pandawa Agri Indonesia

Pandawa Agri Indonesia merupakan perusahaan berbasis lifescience pertama dari Indonesia dan saat ini satu-satunya yang memiliki inovasi dalam pengembangan produk pengurang pestisida (reduktan pestisida). Berawal dari inovasi tersebut, Pandawa Agri Indonesia berkomitmen membantu para pelaku usaha pertanian untuk mewujudkan praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, aman bagi pengguna, dan juga efisiensi biaya.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: Pandawa Agri Indonesia

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

Artikel Terkait

Blog

Pestisida – Akankah Sejarah Terulang?

Sebelum kita menemukan jawaban apakah ini sejarah yang akan berulang ataukah Déjà vu, perkenalkan seorang ilmuan dari Swiss yang bernama Paul Muller. Saat itu, pada tahun 1939 beliau menemukan Dichlorodiphenyltrichloroethane atau yang kita kenal DDT. DDT merupakan insektisida yang paling efektif mengendalikan berbagai macam hama seperti

Read More »
Impact Report 2021
News

Pandawa Agri Indonesia Bangun Ekosistem Pertanian Berkelanjutan – Laporan Dampak

Pandawa Agri Indonesia (PAI), perusahaan agrikultur yang menciptakan inovasi reduktan pestisida, mengembangkan ekosistem pertanian end-to-end yang berkelanjutan di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Inisiatif Pengembangan Ekosistem Beras Natural Mbay ini merupakan satu diantara beberapa inisiasi lainnya yang dikembangkan oleh PAI bagi petani swadaya (smallholders) di Indonesia.

Dalam Laporan Dampak (Impact Report) yang dirilis pada Rabu (10/08/2022), tercatat sejumlah dampak positif yang dihasilkan dari inisiatif tersebut, termasuk

Read More »

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *